Beranda > Pengetahuan Umum > pentingnya ilmu dalam beramal

pentingnya ilmu dalam beramal

Rasulullah Saw pernah menginggatkan perihal prilaku tercela melalui hadisnya yang di riwayatkan oleh Imam Bukhari. Beliau Saw bertanya pada para sahabat tahukah kalian siapa yang disebut dengan Muflis atau orang bangkrut itu?. Para sahabat menjawab, mereka adalah yang tidak berharta. Rasulullah Saw meluruskan jawaban itu dan bersabda. “Orang-orang yang bangkrut dari umatku adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala seperti pahala shalat, puasa, zakat dsb, tetapi ia juga datang dengan membawa dosa-dosa karena ia menyimpan berbagai macam sifat dan perilaku tercela, menghina orang lain, memakan harta orang lain secara bathil, menuduh negatif orang lain, mengalirkan darah dan perilaku negatif lainya. Lantas segala pahala kebaikan yang ia miliki akan dialihkan pada mereka yang pernah ia sakiti. Bila pahalanya telah habis dan kesalahannnya masih menumpuk, maka dosa orang-orang yang ia salahi akan di bebankan padanya. Hingga akhirnya ia di lemparkan kedalam neraka jahanam”. (HR Muslim).

Dari hadist diatas bisa disimpulkan bahwasanya amal ibadah kita akan sangat sia-sia, sementara sifat dan perilaku tercela masih juga di pelihara, dan hal ini disebabkan oleh kurangnya ilmu dalam beramal khususnya ilmu yang berhubungan dengan apa yang sedang dilakukan dalam proses ibadah tsb. Ilmu dan amal adalah dua komponen yang harus berlandaskan pada keingginan untuk merealisasikan amaliah ilmu dan amal tidak bisa di pisahkan, kehilangan salah satu dari keduanya akan menimbulkan kesalahan demi kesalahan bahkan kesesatan.
Beramal tampa ilmu jelas sangat tidak rasional bagaikan kapal yang di ombang-ambingkan gelombang di tengah samudra luas sementara keinginan untuk cepat sampai ke daratan sangatlah tinggi, maka hanya mukzizatlah yang paling berperan ketika itu.
Orang yang selalu mengunakan ilmu dan pemikiran akan menghasilkan ladang amal dan akan selalu menjaga amalanya itu dari perbuatan-perbuatan tercela dalam hidup bersosialisasi dengan masyrakatnya. Sedangkan seseorang yang beramal tanpa di landasi ilmu dan pemikiran, jelas akan di ombang-ambingkan oleh hawa nafsu sehingga akan melahirkan kerugian dan kesia-siaan dalam amaliah tersebut.

Kategori:Pengetahuan Umum
  1. Belum ada komentar.
  1. 11 Januari 2009 pukul 16:21

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: